Senin, 19 Desember 2011
Progresif : Integralistik Tanpa Pasif
“Progress”, asing memang bagi kita, orang awam, mendengar satu kata ini. Namun tahukah anda, siklus hidup yang kita jalani selama ini semuanya tak lepas dari sebuah progress. Secara sederhana progress dapat dikatakan sebagai sebuah kemajuan. Apabila kita melihat sejenak kilas balik perjalanan hidup kita, kita telah mengalami berbagai macam progress yang tanpa kita sadari progrees itulah yang mengantarkan kita masuk dalam gerbang kampus perjuangan, kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya sekarang.
Dalam melewati semua progres-progress itu, sikap angkuh dan egois mulai terpupuk dalam jati diri kita sebagai suatu ciri kepribadian. Dua sikap itu pula yang selalu terlihat lebih menonjol di saat kita hendak meraih mimpi-mimpi yang telah kita rancang manuskripnya. Dua sikap itu pula yang cenderung mengarahkan kita menjadi sosok manusia arogan.
Sebenarnya arogansi bukanlah hal buruk. Namun apakah sebuah arogansi akan membawa ke arah perubahan yang lebih baik? Bagi kita yang menginginkan sebuah revolusi besar, sudah pasti bahwa arogansi merupakan jalan pintas termudah yang dapat ditempuh dalam menyebarkan doktrin-doktrin sebuah kelompok dominasi tanpa melihat apa dan siapa yang ada di bawah mereka. Mereka dengan mudah mengatakan “perubahan”, namun mereka pun tak sadar bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah “kemajuan”. Paradoks dari hal tersebut, arogansi ternyata dapat mengatasi suatu problem dengan progress yang cepat tanpa memandang dampak selanjutnya. Namun bagi kita yang menginginkan sebuah harmonisasi tatanan, mufakatlah yang menjadi pilihan utama. Biarlah sebuah progress mereka nikmati dalam sebuah kerangka integrasi untuk mewujudkan harmonisasi tatanan itu.
Meninjau masalah integrasi, ada banyak komponen makro dalam diri kita sebagai makhluk sosial yang dapat kita gali dan kita berdayakan untuk mewujudkan harmonisasi diri dan bangsa. Seperti “tangguh”. Mungkin semua orang tidak pernah merasa tangguh dalam mengahdapi masalah hidupnya saat ini, namun pernahkah kita sadar seberapa tangguh kita saat ini, karena telah mengalahkan ratusan calon mahasiswa baru yang hendak masuk kampus pahlawan ini.
Komunikatif merupakan hal paling dasar dalam membangun sebuah integralistik ke depannya. Tanpa komunikasi yang baik, maka sebuah lingkaran integrasi akan nampak rapuh dan bisa dikatakan sebuah integrasi pasif. Jadi, komunikasi dapat dikatakan sebagai cikal bakal dalam membangun sebuah visi. Visi merupakan kunci utama membangun peradaban bangsa ini ke depan. Tanpa visi, kita pun juga akan semakin terjebak dalam ranah abu-abu “arogansi”. Dari sikap visioner inilah, kita dapat mengikis semua keberagaman untuk membentuk satu komunitas baru dengan akulturasi yang harmonis. Apabila kita analogikan dalam kehidupan kampus, kita tidak akan melihat seseorang berasal darimana, hitamkah, merahkah, atau hijaukah? Namun yang kita kenal hanya satu, “Birunya ITS”.
Dengan visi yang kuat pula maka rantai-rantai integralistik dapat terbina erat sebagai konektor dalam menggerakan pemuda-pemudi bangsa, mahasiswa Indonesia. Inilah generasi muda bangsa yang memiliki semangat intelektual tinggi,solutif serta inisiatif dalam mengahadpi tantangan global bangsa. Inilah indonesia yang bangga pada para mahasiswanya, karena menjunjung “integrasi” sebagai sebuah cerminan jati diri.
Dalam melewati semua progres-progress itu, sikap angkuh dan egois mulai terpupuk dalam jati diri kita sebagai suatu ciri kepribadian. Dua sikap itu pula yang selalu terlihat lebih menonjol di saat kita hendak meraih mimpi-mimpi yang telah kita rancang manuskripnya. Dua sikap itu pula yang cenderung mengarahkan kita menjadi sosok manusia arogan.
Sebenarnya arogansi bukanlah hal buruk. Namun apakah sebuah arogansi akan membawa ke arah perubahan yang lebih baik? Bagi kita yang menginginkan sebuah revolusi besar, sudah pasti bahwa arogansi merupakan jalan pintas termudah yang dapat ditempuh dalam menyebarkan doktrin-doktrin sebuah kelompok dominasi tanpa melihat apa dan siapa yang ada di bawah mereka. Mereka dengan mudah mengatakan “perubahan”, namun mereka pun tak sadar bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah “kemajuan”. Paradoks dari hal tersebut, arogansi ternyata dapat mengatasi suatu problem dengan progress yang cepat tanpa memandang dampak selanjutnya. Namun bagi kita yang menginginkan sebuah harmonisasi tatanan, mufakatlah yang menjadi pilihan utama. Biarlah sebuah progress mereka nikmati dalam sebuah kerangka integrasi untuk mewujudkan harmonisasi tatanan itu.
Meninjau masalah integrasi, ada banyak komponen makro dalam diri kita sebagai makhluk sosial yang dapat kita gali dan kita berdayakan untuk mewujudkan harmonisasi diri dan bangsa. Seperti “tangguh”. Mungkin semua orang tidak pernah merasa tangguh dalam mengahdapi masalah hidupnya saat ini, namun pernahkah kita sadar seberapa tangguh kita saat ini, karena telah mengalahkan ratusan calon mahasiswa baru yang hendak masuk kampus pahlawan ini.
Komunikatif merupakan hal paling dasar dalam membangun sebuah integralistik ke depannya. Tanpa komunikasi yang baik, maka sebuah lingkaran integrasi akan nampak rapuh dan bisa dikatakan sebuah integrasi pasif. Jadi, komunikasi dapat dikatakan sebagai cikal bakal dalam membangun sebuah visi. Visi merupakan kunci utama membangun peradaban bangsa ini ke depan. Tanpa visi, kita pun juga akan semakin terjebak dalam ranah abu-abu “arogansi”. Dari sikap visioner inilah, kita dapat mengikis semua keberagaman untuk membentuk satu komunitas baru dengan akulturasi yang harmonis. Apabila kita analogikan dalam kehidupan kampus, kita tidak akan melihat seseorang berasal darimana, hitamkah, merahkah, atau hijaukah? Namun yang kita kenal hanya satu, “Birunya ITS”.
Dengan visi yang kuat pula maka rantai-rantai integralistik dapat terbina erat sebagai konektor dalam menggerakan pemuda-pemudi bangsa, mahasiswa Indonesia. Inilah generasi muda bangsa yang memiliki semangat intelektual tinggi,solutif serta inisiatif dalam mengahadpi tantangan global bangsa. Inilah indonesia yang bangga pada para mahasiswanya, karena menjunjung “integrasi” sebagai sebuah cerminan jati diri.
Rabu, 14 Desember 2011
Spirit Baru Menuju 2012
Setelah Lama vakum di dunia blogging,
Akhirnya Mpu kembali juga ke ranah Citizen Jounalist ini
Nantikan progress-progress terbaru Indonesia Bicara di tahun mendatang
Spirit Baru Menuju 2012 dengan mengusung tema :
"1NDONESIA BICARA : Budaya, Citra Bangsa"
Selama Setahun Kedepan, Mpu akan menghadirkan paras citra budaya bangsa ini, sebagai kontribusi Suara Indonesia.
Itulah proker Mpu kedepannya, sekaligus memperingati 3 tahun eksistensi "1ndonesia Bicara"
Salam Indonesia Bicara
ttd.
RB. Bima Krida
Kutipan Pustaka Jurnal Mengenai "Pengolahan Air Minum"
Air merupakan sumber daya alam penting bagi kehidupan manusia. Tidak salah kalau ada yang menyebut setetes air adalah sumber kehidupan (Admawirya, 2002).
Dampak pemanfaatan air di hulu akan menghilangkan peluang di hilir (opportunity value), pencemaran di hulu menimbulkan biaya social di hilir (externality effect), atau sebaliknya pelestarian di hulu akan member manfaat di hilir (Pangesti. 2000).
Pemerintah sesuai dengan pasal 5 Undang-undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air bertanggung-jawab untuk menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh air bagi kebutuhan hidup minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih dan produktif. Meningkatnya jumlah populasi dan gaya hidup menyebabkan semakin melebarnya jumlah permintaan dan jumlah ketersediaan air.
Menurut sistem kedua, pengelolaan daerah aliran sungai harus dikelola melalui pendekatan tata ruang dan wilayah (river basin) (Soenarno. 2001).
Ketaksepadanan pengelolaan hulu dan hilir sungai telah menyebabkan kemunduran kondisi Daerah Aliran Sungai (Iskandar, 2003).
Kelarutan oksigen dalam air dipengaruhi oleh:
1. Suhu air
2. Tekanan atmosfir
3. Kandungan garam-garam terlarut
4. Kualitas pakan
5. Aktivitas biologi perairan
(Reid & Wood,1976 dalam Koestawa,1989).
Pada prinsipnya, pengolahan air alam menjadi air bersih dilakukan dengan menggunakan beberapa tahap proses, antara lain koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi, netralisasi dan desinfeksi (BSNI, 2000, dan Spellman, 2000).
Bakteri EM untuk Mempercepat Proses Pengomposan Sampah Organik
Mengolah sampah organik kompos merupakan proses alami yang disebabkan oleh mikroorganisme yang ada didalam sampah . Kompos adalah produk dari pengomposan, yaitu cara untuk mengkonversikan bahan-bahan organik menjadi bahan yang telah dirombak lebih sederhana dengan menggunakan aktifitas mikrobakteria, semacam perombakan yang terjadi pada bahan organik dalam tanah oleh bakteri tanah dengan Effektive Microorganisme (EM) sebagai sumber bakteri yang banyak digunakan di dalam proses pembuatan kompos. Media ini akan membantu pembuatan kompos menjadi lebih singkat, mudah dan berkualitas lebih baik.
Effektive microorganism (EM) merupakan sumber bakteri yang banyak digunakan di dalam proses pembuatan kompos. Media ini akan membantu pembuatan kompos menjadi lebih singkat, mudah dan berkualitas lebih baik. Bakteri EM terdiri dari berbagai campuran dari mikroorganisme yang bermanfaat dan telah ada secara alami yang berguna dalam menambah keberagaman mikrobiologi dalam tanah dan tumbuhan. Biakan EM mengandung spesies-spesies mikroorganisme tertentu termasuk bakteri fotosintesis dan asam laktat, ragi (yeast), golongan ascomicota, dan jamur fermentasi.
Langganan:
Postingan (Atom)

