Indonesia Bicara

Indonesia Bicara
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Asas Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan



Prospek penegakan hukum dibidang pengendalian dan pengelolaan lingkungan hidup saat ini tengah berada dalam kondisi yang riskan (Wihardandi, 2012). Meksipun DPR bersama Presiden telah menetapkan UU. 32 tahun 2009, hal ini bukanlah angin segar bagi proses rehabilitasi lingkungan Indonesia. Bagaimana tidak, masih kerap muncul konflik antara masyarakat lokal dengan pengusaha maupun pemerintah terkait sumber-sumber pengelolaan lingkungan. Disisi lain, pembangunan berkelanjutan memungkinkan pemanfaatan kearifan dan sumber-sumber daya sosial sebagai modal dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Kurangnya perlindungan atau penghormatan terhadap kearifan lingkungan yang dikembangkan masyarakat lokal dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam, antara lain disebabkan oleh kurangnya pemahaman para pihak terkait (stakeholders) dan tidak adanya alur informasi yang baik mengenai manajemen pengelolaan lingkungan.
Sejumlah konflik yang muncul mengenai lingkungan lebih banyak melibatkan masyarakat adat dengan masyarakat lain  yang tidak mengenal kearifan lokal suatu masyarakat tentang bagaimana mengelola lingkungannya secara tradisional termasuk pelarangan pemilikan tanah secara adat. Karena itu, langkah yang tepat dalam usaha untuk mewujudkan kearifan lingkungan adalah dengan mengkaji kembali tradisi yang ada di masyarakat tentang usaha mereka untuk mewujudkan keseimbangan kehidupan dengan lingkungannya. Tradisi dan aturan lokal yang tercipta dan diwariskan turun menurun untuk mengelola lingkungan merupakan materi penting bagi penyusunan kebijakan yang baru tentang lingkungan.
Dalam undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang pengelolaan lingkungan dijabarkan mengenai asas pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan ekoregion dan kearifan lokal. Sedangkan dalam undang-undang nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan dijabarkan juga bahwa pengurusan hutan harus memperhatikan dinamika aspirasi adat dan budaya. Secara formil, kedua kebijakan ini sudah ideal dan dapat melindungi hak asazi masyarakat/komunitas adat Indonesia (indigenous people). Namun secara praksis, undang-undang tentang kehutanan, pengelolaan lingkungan hidup, dan undang-undang nomor 39 tahun 1999 tentang HAM mengalami banyak kendala. Pemerintah, pihak industri, LSM lingkungan, dan masyarakat belum memiliki prosedur yang jelas mengenai peran masing-masing pihak dalam suatu kawasan adat. Semua pihak melakukan penafsiran secara mandiri sehingga dalam hal pemanfaatan sumber daya alam dan pelaporan pelanggaran kerap terjadi kebingungan karena tidak memiliki aturan teknis yang jelas.
Realita yang ada saat ini membuktikan bahwa ketiga regulasi tersebut saling terpisah dan tidak memiliki unsur korelitas dalam hal penjabaran peran serta masyarakat dan pengakuan hak-hak masyarakat/komunitas adat. Tak ayal, 68 persen pelanggaran lingkungan hidup disebabkan karena konflik horizontal antara masyarakat dengan developer (Tribun, 2011). Hal seperti inilah yang tidak diinginkan bangsa ini ke depannya, mengingat kasus Mesuji dan Bima di awal tahun 2012 telah menciderai lokalitas budaya setempat dan berujung pada kasus pelanggaran HAM akibat pengelolaan lingkungan yang setengah hati.
Pemerintah seakan menutup mata begitu juga dengan LSM lingkungan hidup di dunia. Mereka hanya menuntaskan ranting masalah tanpa mengusut akar masalah yang ternyata berujung pada regulasi negeri ini. Masyarakat/komunitas adat dengan sistem pengelolaan tradisional atau kearifan tradisional memiliki peranan sangat penting dalam menjaga dan melestarikan alam serta lingkungan. Bahkan dalam kehidupan keseharian, sistem pengelolaan lingkungan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat adat terbukti mampu menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Dapat diambil contoh,  pelestarian alam oleh masyarakat adat di Papua sudah dilakukan sejak dulu. Hal ini bisa dilihat dari tradisi upacara adat di masyarakat suku Tepera Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. Masyarakat suku Tepera mengenal tradisi Tiyatiki untuk melakukan perlidungan dan pelarangan selama beberapa lama untuk tidak boleh mencari atau memancing ikan di wilayah tertentu yang sudah diberikan tanda pelarangan. Begitu juga dengan hak ulayat masyarakat adat Pulau Tiga Natuna yakni mengkeramatkan daerah-daerah tertentu, larangan membunuh atau menangkap hewan tertentu, penghormatan terhadap laut, pemeliharaan terumbu karang, dan penggunaan teknologi penangkapan sederhana.

Minggu, 18 Maret 2012

Tata Laksana Upacara Siraman

Upacara siraman, tinarbuka kanthi sowanipun putra calon penganten putri mjil saking sasana busana, manjing ing madyaning sasana upacara
Kalajengaken adicara pangabekten atur bektinipun putra calon penganten putri kakanthi dening rama lan ibu, tumuju dhumateng papan pasiraman, ingkang kawiwitan saking para pinisepuh, lajeng dipun pungkasi dening keng ramanipun putra calon penganten putrid. Wekasing sedya, tinengeran pamecahing Kendhisari.



Rapal mecah kendhi : Ora pati-pati mecah kendhi, nanging mecah Kendhisari, mecah pamore anakku jabang bayine Dyah …………………………….. (naminipun putra calon penganten putri), kadya mas sinangling, saking karsaning Allah.
Sabidaripun siraman, putra calon penganten putrid kapobong dening ingkang rama, tumuju dhumateng sasana busana, saperlu nindakaken upacara potong/pagas rikma. Sasampunipun rikma kapotong dening ingkang rama, tinampi dening ingkang ibu lajeng katanem wonten sangajenging dalem.
Rapal potong rikma : Ora ngguwang-ngguwang rambut, nanging angguwang sesukering anakku, kariya beja mulya, rahayu uripe.
Sasampunipun pegas rikma, kalajengaken adicara sadean dhawet. Kang rama saha ibunipun putra calon penganten putrid tumuju dhateng sasana sadean dhawet. Ingkang ibu anggendong senik wadah arta. Wondene ingkang rama hamuyungi. Sade dhawet kawiwitan dening ingkang ibu, dene ingkang rama hanampi arta sinambi mayungi. Pikantukipun arta kabuntel lajeng kaparingaken dhateng putra calon penganten putrid. Wondene pangandikanipun ibu dhumateng putranipun mekaten :
Ibu : Anakku ngger Dyah ……………………………… tampanana dhuwit, oleh-olehane dodol dhawet, muga-muga kena kanggo pawitane uripmu, lan iki jajan pasar maneka warna, pinangka pralampita Manawa ing bebrayan agung kuwi isine maneka warna, sing bisa anggonmu leladi ing bebrayan ya ngger.
Putra : Inggih Ibu, ngestokaken dhawuh.
Wondene minangka paripurnaning upacara siraman, inggih punika dhahar sekul tumpeng. Keng ramanipun putra calon penganten putri motong tumpeng sajen siraman, kaparingaken dhateng keng ibunipun putra calon penganten putri, lajeng diparingi lawuh, tumunten kaparingaken dhumateng ingkang putra calon penganten putri. Mekaten pangandikanipun ibu dhumateng putranipun.
Ibu : Anakku ngger, sing tak tresnani, tampanana rejeki peparinging Gusti lumantar rama lan ibu, muga-muga sega salawuhe iki murakabi sarandhuning badan lan ndadekake seger bagas waras jiwa lan ragamu.
Putra : Inggih Ibu.

Kamis, 09 Februari 2012

Awal Meniti Karier



Ya, foto di atas sesuai dengan headline Indonesia Bicara saat ini. Gedung yang terletak di jalan Raya Karanglo (depan Pabrik Rokok Bentoel). Namanya Gedung "Unggul". Gedung yang dibangun dengan tujuan sebagai lokasi show room dan ball room ini memang sudah menjadi langganan bagi pasangan-pasangan muda yang hendak melangsungkan pernikahan.


Pada pertengahan Mei 2011, ada tawaran dari seorang rekan kerja magang di JTV biro Malang, Mbak Isyia Amanda namanya. Beliau menawari saya untuk menjadi MC pernikahan senior beliau satu jurusan. Alhamdulillah akhirnya dapat tawaran MC perdana juga. Maklum semenjak terjun di dunia MC basa Jawa tahun 2007 belum pernah mandhegani pahargyan temanten secara utuh.
Pengalaman pertama MC yakni ketika menjadi MC Bahasa Jawa dalam pembukaan Lomba UKS tingkat Jawa Timur di Balai Kota Malang. Lalu menjadi MC Bahasa Jawa Lomba Adiwiyata Pratama di SMPN 5 Malang. Berlanjut sampai SMA masih di percaya oleh dinas pendidikan dan Pemerintah Kota Malang sebagai MC Bahasa Jawa. Sampai di akhir kelas 11 SMA, saya dikader oleh guru saya untuk menjadi MC Pahargyan Temanten Jawa Cakrak Jogja-Surakarta. Selama masa gladhi itu saya hanya sebatas ikut dan menjadi asisten. Beberapa bulan berikutnya saya mulai ditugaskan untuk memagang acara, alih-alih bukan sebagai MC tetapi sebagai Koordinator Sie Acara dalam rangkaian temanten tersebut.




 Foto dibawah ini adalah Tari Bedhaya Karonsih yang biasa dipertunjukkan dalam rangkaian acara Pawiwahan Pahargyan Temanten Cakrak Ngayogyakarta. Foto ini diambil di Gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang. 


Rabu, 01 Februari 2012

Makna Filosofis Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (1)






Keraton Yogyakarta sejatinya dibangun diatas darah perseteruan keluarga Surakarta. Berawal dari pemberontakan RM. Said (SP. Mangkunegara I) kepada SISKS Paku Buwono I, yang berujung pada campur tangan VOC sehingga lahirlah perjanjian Gianti. Dari situlah muncul sosok Pangeran Mangkubumi yang akhirnya didapuk menjadi Suryaning Jagad Nagari Ngayogyakarta. Pangeran Mangkubumi ketika muda dikenal dengan nama Pangeran Mangkubumi Sukowati. Ketika menjabat sebagai raja Yogya, beliau bergelar Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana I. Tak pernah disangka sebelumnya, dibalik sosok idealis Ngarsa Dalem kaping I ini ternyata beliau juga seorang arsitek ulung. Bahkan Dr. F. Pigeund dan Dr. L. Adam memberi predikat beliau sebagai "de bouw meester van zijn broer Sunan P.B. II" (arsitek dari kakanda Sri Sunan Paki Buwana I).


Ngarsa Dalem kaping I sangat memperhatikan detail bentuk keraton yang akan menjadi kediaman sekaligus basis pemerintahan dan pembinaan di Yogyakarta ini. Ini terbukti dari penempatan lokasi keraton yang terletak di tengah-tengah dan membentang antara Sungai Code dan Sungai Winanga serta dari Tugu Golong-Giling (sekarang Tugu Pal Putih) sampai Krapyak. Daerah keraton sendiri terletak di hutan Garjitawati. dekat desa Beringin, desa Pacethokan. Dipilih lokasi ini memiliki makna khusus, karena area hutan ini merupakan area peristirahatan bagi keluarga raja/bangsawan Mataram, Kartasura dan Surakarta ketika hendak melakukan perjalanan religi menuju Astana Imogiri. Walaupun kondisi hutan ini sangat kurang memadai untuk dijadikan sebuah kerajaan dan benteng namun tidak membuat Ngarsa Dalem kaping I kurang akal. Beliau membelokkan aliran Sungai Code sedikit ke timur dan aliran Sungai Winanga sedikit ke barat.


Kemahiran tata arsitektur ISKS HB I ini tercermin dalam sebuah tembang macapat mijil berikut :


Kali Nanga pacingkok ing puri,
Gunung Gamping ing kulon,
Hardi Mrapi ter wetan prenahe,
Candi Jonggrang mangungkang ing kali,
Palered Magiri,
Girilaya kidul

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibangun pada tahun 1756 M atau 1682 tahun Jawa. Berdirinya keraton ini diperingati dengan candrasengkala memet di Pintu Gerbang Kemagangan dan Pintu Gerbang Gadung Mlati yang berbunyi "Dwi Naga Rasa Tunggal" dan "Dwi Naga Rasa Wani", keduanya bermakna tahun 1682.

Luas keraton Yogyakarta adalah 14000 m2, dimana di dalamnya terdapat banyak bangunan bersejarah yang sarat akan makna religi dan filosofi budaya. Dimulai dari halaman Keraton, kita lihat mengarah ke utara :
  1. Kedhaton/Prabayeksa
  2. Bangsal Kencana
  3. Regol (Pintu Gerbang) Danapratapa
  4. Sri Maganti
  5. Regol Sri Maganti
  6. Bangsal Poncowati
  7. Regol Brajanala
  8. Siti Inggil
  9. Tarub Agung
  10. Pagelaran (dengan tiang/saka guru berjumlah 64, yang melambangkan usia Nabi Muhammad saw, sekaligus menunjukkan identitas Islam di keraton ini)
  11. Kepatihan (sekarang komplek kantor gubernur)
  12. Tugu


Sedangkan apabila kita melihat ke arah selatan, maka bangunan-bangunan yang akan ditemui adalah :
  1. Regol Kemagangan
  2. Bangsal Kemagangan
  3. Regol Gadung Mlati
  4. Bangsal Kemandungan
  5. Regol Kemandungan.
  6. Siti Inggil
  7. Alun-Alun Kidul
  8. Krapyak (sebuah podium tinggi yang dunakan Ngarsa Dalem untuk memperhatikan tentara keraton ketika berlatih)
Seluruh kompleks keraton ini dikelilingi oleh sebuah tembok besar atau benteng (basa jawa : Beteng) dengan panjang 1 km (berbentuk persegi panjang), tingginya 3,5 meter, dan lebarnya 3-4 meter. Dari tembok-tembok ini terdapat lima buah pintu gerbang keraton dengan dunia luar sebanyak 5 buah, yang juga melambangkan Rukun Islam. Pintu gerbang atau plengkung itu antara lain Plengkung Tarunasura/Wijilan (sebelah timur laut), Jogosuro/Ngasem (barat daya), Jogoboyo/Taman Sari (barat), Nirboyo/Gading (selatan), Tambakboyo/Gondomanan (timur). Dari kelima plengkung ini hanya 2 yang masih memiliki bentuk asli yakni plengkung Nirboyo dan Tarunasura, sedangkan plengkung yang lain sudah beralih fungsi.


Makna Simbolik Keraton Yogyakarta

Diawali dari Krapyak, yang merupakan gambaran dari tempat asalnya roh-roh. Di sebelah utaranya terdapat Kampung Mijen. Mijen berasal dari bahasa Jawa : Wiji, yang berarti benih. Inilah makna filosofis dari sebuah siklus perjalanan manusia. Di kanan kiri Krapyak selalu ditanami pohon Asem dan Tanjung. Kedua pohon ini tidak pernah ditebang dan apabila ada yang mati maka akan diganti dengan pohon berjenis sama. Pohon Asem memiliki makna "mengasemkan" (menarik rupanya) sedangkan Tanjung memilik makna dijunjung. Artinya seorang bayi yang baru lahir senantiasa  dalam keadaan fitrah lahiriah atau suci dan selalu dimanja oleh kedua orang tuanya. Makna lain dari pohon Asem berarti laki-laki, sedangkan Tanjung berarti perempuan. Dari gambaran ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sejatinya sejak dalam kandungan laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama.

Meneruskan perjalanan selanjutnya sampailah kita di plengkung Nirbaya/Gading. Plengkung ini menujukkan batas periode manusia dari masa kanak-kanak menuju masa Pra-Puber.

Selanjutnya kita menuju Alun-Alun Kidul. Disini kita bisa melihat 2 pohon beringin besar yang dijuluki masyarakat dengan nama Wok (berasal dari kata Bewok). Nama ini memiliki arti bagian vital anggota tubuh kita dan bermakna masuknya manusia ke masa pubertas. Jumlahnya ada 2 memiliki makna laki-laki. Hal ini merujuk pada syarat akikah anak laki-laki yang mengharuskan menyembelih kambing sebanyak 2 buah. Masing pohon beringin ini memilik nama resmi Supit Urang. Makna dari nama ini melambangkan perempuan. Supit urang merupakan hiasan kepala/hiasan sanggul yang digunakan seorang perempuan ketika akil baligh. Kedua pohon beringin ini dipagar berbentuk persegi dengan motif busur setengah lingkaran yang juga melambangkan tumbuhnya rasa cinta antara laki-laki dan perempuan.
Di sekitar kawasan alun-alun ini terdapat 5 buah jalan yang bertemu menjadi satu menuju ke arah alun-alun. Ini sarat akan makna panca indra kita yang harus senantiasa bersatu dengan hati kita untuk menjalankan perintah Gusti Kang Hangakarya Jagad, Allah swt. Di kawasan alun-alun sendiri hampir tidak pernah ditemui tanah, namun yang banyak ditemui adalah pasir yang berasal dari Segara Kidul. Di sekeliling alun-alun ditanami pohon kweni dan Pakel yang berarti manusia sudah memiliki sifat wani dan menginjak masa akil baligh.



~~ bersambung (2) ~~

Minggu, 29 Januari 2012

Euforia "Visit Indonesia Year"

Setelah sukses mengusung Brand "VISIT INDONESIA YEAR 2008" , di pertengahan 2011 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (sekarang Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) mulai mendongkrak kunjungan wisata domestik dan mancanegara dengan mengeluarkan tema baru yakni "WONDERFUL INDONESIA"


Inilah dia transformasi Brand Pariwisata Indonesia 2012, sekaligus sebagai jawaban Visi Indonesia Masa Depan, Visi Antara, dan Visi Indonesia 2025








Semenjak dilanuching VIY 2008, berbagai daerah di Indoneisa juga mulai menggalakkan visit daerahnya masing. Dimulai dari Jogja yang mempromosikan dirinya dengan brand "Jogja, Never Ending Asia" pada awal 2008, lalu berlanjut di Kota Samarinda "Visit Samarinda 2009". Di tahun 2010, deretan kota yang juga mengusung tahun kunjungan wisata adalah Solo "Solo, The Spirit of Java", Surabaya "Sparkling Surabaya", Bandung "Bandung, Everlasting Beauty" dan Batu "Kota Wisata Batu". Beralih ke tahun berikutnya diawalai oleh JawaTimur "Visit East Java 2011", Makassar "Makassar, Great Expectation", dan Padang "Padang, Your Motherland".

Di tahun 2012 ini, Pemerintah ingin menampakkan wajah Indonesia sebagai satu kesatuan budaya yang tak terpisahkan. Sehingga ketika wisatawan manca datang ke Indonesia, hanya satu kata yang terucap oleh mereka yakni "HEBAT !", ya benar "WONDERFUL INDONESIA"






























Di tahun 2013 nanti, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga akan memiliki gebrakan baru dengan melauching "Visit Jawa Tengah 2013". Mari kita tunggu promosi Wisata Nusantara selanjutnya !







Amuspa Buketan, Saingi Etnika Nusa Tenggara


Setelah Pengusaha kondang Martha Tilaar mengeluarkan brand baru produk Sari Ayu yang bertajuk Etnika Nusa Tenggara di penghujung 2011 kemarin. Di awal tahun 2012 ini, Mustika Ratu kembali memperkenalkan tren warna terbarunya. Masih dengan kekayaan alam Indonesia, kali ini brand kosmetik lokal itu menghadirkan 'Amuspa Buketan'.


Etnika Nusa Tenggara merupakan brand khusus Sari Ayu yang mengangkat kebudayaan tata rias asli Timor dan Kupang sebagai trend warna 2012. Ide diilhami agar seluruh elemen masyarakat Indonesia dapat mengetahui dan memandang lebih dekat Indonesia seutuhnya. Dengan mengangkat khasanah kebudayaan NTT ini, diharapkan pemerintah dan masyarakat semakin peka agar tidak meninggalkan saudara-saudara kita di timur sana. 


Berbeda dengan BRA. Moeryati Soedibyo, owner Mustika Ratu, beliau mengadakan media gathering serta launching tren warna 2012 dengan mengusung tema Kembali Ke Jati Diri Bangsa. Acara yang digelar di restoran Palalada, Grand Indonesia, Jakarta itu dihadiri oleh brand ambassador 'Amuspa Buketan', Ayu Pratiwi --Puteri Indonesia Pariwisata 2009.

Amuspa Buketan merupakah bahasa Jawa yang memiliki arti tersendiri dalam tiap katanya. Amuspa berarti bunga yang dipuja dan Buket adalah rangkaian bunga. Jadi secara keseluruhan, tren warna mustika ratu 2012 tersebut mempunyai arti rangkaian bunga nan dipuja.

Tren warna ini terinspirasi dari warna-warna cantik yang lembut dan anggun ala wanita Indonesia, yang dianggap sebagai rangkaian bunga dalam batik Buketan. Dua bunga yang menjadi 'highlight' dalam tren Amuspa Buketan adalah anggrek dan mawar.


Jelas sudah, bahwa harapan untuk kembali ke jati diri Budaya Bangsa telah tergambar jelas melalui promosi fashion dan mode yang telah dibuktikan oleh Mpu-Mpu Rias Indonesia, Dr. Martha Tilaar dan BRA. Moeryati Soedibyo.


Sabtu, 07 Januari 2012

Festival Keraton Nusantara VIII, 2012


Keraton Buton, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara pada adiwarsa 2012 ini akan menjadi Tuan Rumah Festival Keraton Nusantara VII. Perhelatan Budaya yang diadakan setiap 2 tahun sekali ini mengangkat tema "Binci-binciki Kuli".

"Binci-binciki kuli" berarti masing-masing orang mencubit kulit tubuhnya sendiri dan pasti akan terasa sakit. Analoginya apabila kita merasa sakit mencubit kulit tubuh sendiri dan pasti akan terasa sakit pula bila mencubit kulit tubuh orang lain. Inilah yang saat ini tengah dialami bangsa kita saat ini. Konflik horizontal yang tak kunjung reda dan mengikis rasa persatuan.

Dalam FKN 2012, di mana Kota Baubau akan menjadi tuan rumah, mengangkat tema tersebut dengan kondisi beberapa wilayah negara kita yang nampak terjadinya gejolak. Dengan tema itu diharapkan adanya rasasaling menghargai dan menghormati dalam tenggang rasa.

Selain itu, dengan momentum kegiatan tersebut diharapkan bisa memberikan nilai harmonisasi antara budaya dengan negara serta merekatkan kembali nilai-nilai budaya di masa lalu terutama wilayah eks kesultanan Buton.

Untuk Kesultanan Buton sendiri, akan diikuti oleh Kabupaten Buton, Wakatobi, Buton Utara, Bombana serta Kabupaten Muna untuk membicarakan peran-peran pada FKN nanti, di mana keempat daerah itu sangat terkait dengan sejarah masa lalu Kesultanan Buton.


FKN VII sebelumnya diadakan di Kesultanan Palembang Darussalam, Sumatera Selatan.

Sebanyak 120 dari 152 keraton di seluruh Indonesia sudah memastikan diri menjadi peserta Festival Keraton Nusantara ke-8 tahun 2012 yang akan digelar di Baubau, Sulawesi Tenggara awal Juli 2012. 120 keraton kemudian mengirimkan surat konfirmasi kesediaan mengikut festival tersebut. 

Panitia daerah Kota Baubau saat ini tengah merampungkan sejumlah sarana dan prasana pendukung yang digunakan dalam kegiatan festival.

Sebelum perhelatan akbar ini para Raja dan Sultan se-Indonesia telah berkumpul di Keraton Kasepuhan Cirebon pada Juni 2011. Para Raja dan Sultan tersebut tergabung dalam Silaturahmi Nasional kedua Raja dan Sultan Nusantara yang diketuai oleh KRAT. Mas'ud Thoyib Adiningrat dengan Sekjend Raja Samu Samu VI Yang Mulia Upu Latu ML Denny Ahmad Samu Samu. Dalam Acara tersebut hadir pula Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara Ida Tjokorda Jambe Pamecutam.


Perhelatan akabar nasional ini diselenggarakan berkat kerjasama Forum Sitaruhmi Keraton Nusantara (FSKN), Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan Indonesia (AKKI), Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara (FKIKN) serta Silaturahmi Raja dan Sultan Nusantara.



Jumat, 06 Januari 2012

Jamu : Sebuah Filosofi dan Representasi Budaya

Tercipta dari sebuah karya rasa yang memiliki nilai kulinasi hebat, berasal dari formula dengan gubahan ramuan-ramuan khas nusantara, dan dinikmati dalam secangkir kehangatan Rasa Indonesia. Ya, itulah Jamu. Minuman khas nusantara ini telah dikenal sejak zaman Majapahit berdiri. Pada zaman Majapahit, jamu merupakan minuman kebesaran raja sekaligus menjadi trendsetter bagi para pembesar dan mitra kerajaan di luar Majapahit. Tradisi minum jamu ini dimulai dari Brawijaya ke III yang kemudian diteruskan oleh cucunya Brawijaya ke V. Di akhir periode Majapahit, Raden Fatah (Pendiri Kerajaan Demak Bintoro), penerus trah Brawijaya V, mulai mempomosikan jamu sebagai ilmu sekaligus tatanan sakral kehidupan keraton yang sampai saat ini masih ada dalam rangkuman Buku "Kawruh Jampi" di Jogjakarta dan Surakarta. Promosi ini membawa jamu tidak hanya dikenal sebagai minuman kebesaran raja saja, namun juga merambah ke kalangan masyarakat bawah. Pada era pra Majapahit, istilah pengobatan tradisional juga telah dikenal dan diilmiahkan oleh masyarakat kerajaan Mataram Kuno (772 M) dan ini tercermin dalam salah satu relief "husada" di Candi Borobudur. Ketika Belanda masuk ke Indonesia, berbagai observasi telah dilakukan ilmuwan-ilmuwan negeri kincir angin ini untuk membuktikan khasiat dari sebuah jamu. Tak disangka, hasil temuan-temuan tersebut membuktikan bahwa satu jenis ramuan jamu memiliki berbagai khasiat yang kompleks yakni telah memiliki antibiotik alami, stabilisator sistem pencernaan, dan yang paling penting adalah memiliki sifat memulihkan/mengobati kondisi tubuh yang kurang baik.


Siapa tak kenal dengan istilah "Jamu Gendong"? Dari namanya, kita sudah dapat membayangkan dengan sosok ibu-ibu mengenakan jarit dan kebaya disertai menggendong bakul berisi 6-8 botol-botol jamu. Diambil dari namanya "gendong" yang berasal dari bahasa jawa, tradisi ini meruapakan runtutan kisah dari Kerajaan Demak, seperti yang kita ulas di atas. Mataram Islam, salah satu Kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa, merupakan cikal bakal lahirnya jamu gendong. Dengan basis wilayah di seluruh Pulau Jawa, Bali, sebagian Sumatra dan mitra kerajaan lain di luar jawa, membuat sebuah keseragaman konsep dan titi tata laksana jamu di Indonesia. Berawal dari titah Sultan Agung untuk menyebarkan doktrin Negara Agung ke seluruh penjuru Nusantara, menjadikan jamu sebagai media aplikatif dan efektif bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Stigma jamu tidak lagi dijadikan sebagai minuman kebesaran, namun sebuah minuman kebersaaman dalam lokalitas budaya Jawa.


Sebagai intisari dalam penyampaian konsep itu, para pedagang jamu gendong selalu membawa jamu dalam jumlah 8 jenis. Ini merupakan representasi konsep 8 arah mata angin sekaligus salah satu lambang surya Majapahit ri Wilwatikta. Diharapkan melalui media jamu yang mengakar pada jati diri masyarakat, Bangsa Indonesia dapat mencapai puncak kejayaan seperti pada zaman Majapahit tanpa terhalang segala macam marabahaya. Delapan jenis jamu tersebut antara lain Kunir Asam, Beras Kencur, Cabe Puyang, Pahitan, Kunci Suruh, Kudu Laos, Uyup-Uyup/Gepyokan, dan Sinom. Kedelapan jenis jamu ini merupakan urutan ideal dalam meminum jamu dimulai dari manis-asam, sedikit pedas-hangat, pedas, pahit, tawar, hingga manis kembali. dari urutan-urutan ini kita bisa ambil nilai filosofis sebenarnya apabila dikaitkan dalam hidup.


Manusia lahir di muka bumi dalam keadaan fitrah. Silogisme ini bisa diandaikan dengan keadaan "manis" sewaktu bayi. Manis merupakan sebagian rasa yang kita alami semasa bayi dan balita. Kata "kunir" di atas, diambil dari representasi warna kulit orang-orang Indonesia berasal (sawo matang-semu kuning), tempat Jamu dilahirkan. "Asam" kondisi dimana kita mulai beranjak remaja, umur 11-15 tahun, dimana kita mulai melihat samar-samar keadaan hidup sebenarnya.


Beralih ke fase selanjutnya yakni Pra-Dewasa yang difilosofikan dengan jamu Beras Kencur. "Beras Kencur" apabila dibedah kata inimenjadi Bebering Alas Tan Kena Diukur atau Luasnya 'Dunia' belum bisa dikira-kira. Ya, inilah fase dimana kita mulai masuk ke gerbang kedewasaan. Rasa ingin tahu yang besar sikap egoisme yang mulai muncul kadang kala membuat seseorang mencoba hal-hal baru tanpa dipikirkan efek baik dan buruknya. Beras Kencur memiliki rasa sedikit pedas yang menggambarkan bahwa kita baru mencicipi sedikit saja rasa/hawa dunia sebenarnya.


Cabe Puyang, Cacating Lambe Purnaning Sembahyang. Itulah istilah yang tepat menggambarkan sikap labil kita pada umur 19-21 tahun. Suatu fase dimana kita harus lebih banyak menata diri dan bertanggung jawab atas apa yang kita ucapkan. Berusaha konsisten akan visi yang akan kita capai, bukan bersikap plin-plan (pagi beriman, sorenya kafir). Rasa pedasnya dunia sudah mulai kita rasakan seperti pedas dan pahitnya jamu ini.


Pahitan, namanya sesuai rasanya. Tidak ada nama khusus untuk jamu yang satu ini karena bahan yang digunakan pun beragam, mulai dari brotowali, widoro, doro putih sampai babakan pule. Ya, inilah masa-masa klimaks kita dalam menghadapi kehidupan sebenarnya. Berbekal pendidikan budi pekerti yang telah kita resapi sejak balita, ditunjang dengan rasa keingintahuan yang besar di masa remaja, membuat kita semakin kuat dan survive dalam menghadapi hidup yang sebenarnya.


Setelah melewati fase klimaks itu, kita akan menemui suatu perjalanan hidup yang landai sebagai sebuah resolusi hidup. Di fase ini lah kita akan menikmati masa keemasan hidup kita. Berkisar antara umur 30-45 tahun, kita akan memiliki pasangan hidup, meraih semua angan-angan yang pernah terpendam, dan berusaha lebih berarti bagi lingkungan masyarakat sekitar. Inilah filosofi dari sebuah jamu yang bernama "Kunci Suruh". Kunci merupakan sebuah bumbu penyedap makanan, sedangkan suruh memiliki banyak khasiat dan penyembuh berbagai macam penyakit. Jadi dapat dilambangkan bahwa kesuksesan hidup kita saat itu didasarkan pada apa yang kita peroleh semenjak kecil.


Dalam melanjutkan perjalanan resolusi kita ini, ada tugas-tugas kecil yang harus kita kerjakan yakni menjalin hubungan sinergis dengan seluruh pihak yang telah berjasa dalam hidup kita. dalam masa inilah kadang kala kita sering merasa lupa dan kurang bersyukur akan rizqi yang telah kita peroleh. Sudah sepatutnya kita mulai berderma, menyumbangkan segala yang kita punya dan kita mampu pada orang yang benar-benar membutuhkan disekitr kita. Inilah filosofi Kudu Laos. Sebuah jamu penghangat, yang mampu menghidupkan rasa kekeluargaan bagi orang-orang yang membutuhkan.


Uyup-uyup/gepyokan merupakan sebuah jamu penetral sekaligus bersifat rehabilitatif bagi seseorang yang telah sembuh dari penyakit berat. Bersifat mendinginkan adalah karakter jamu ini. Melalui pengabdian diri seutuhnya dan kepasrahan tulus dari seorang hamba kepada Tuhannya merupakan representasi nyata kehidupan seseorang sebelum memasuki tahap baru, tahap alam non fana, dan semuanya tergambar dalam aroma khas jamu ini, yakni aroma tawar sedikit manis.


Inilah konklusi dari siklus hidup kita, Sinom yang dapat diartikan sirep tanpa nampa. Dalam Bahasa Indonesia maknanya adalah diam (tidur/meninggal/moksa) dengan tidak meminta apa-apa. Jamu dengan rasa manis ini menggambarkan bahwa awal dan akhir dari sebuah siklus harus dijalankan secara seimbang. Apabila di awal kita dilahirkan secara fitrah, maka di akhir kita harus kembali seutuhnya dalam keadaan baik tanpa merepotkan siapapun.


Tuntas sudah perjalanan hidup seseorang yang tergambar jelas dalam sebuah manifestasi tradisi. Semuanya telah didesain oleh Dia, Yang Maha Dahsyat, dan semua terangkum dalam titi tata laksana budaya. Inilah salah satu dari beribu lembaran-lembaran budaya yang terhampar dari ujung ke ujung Nusantara. Sebuah tradisi yang melekat pada jati diri warga bangsa dengan balutan Filosofi dan Representasi Budaya.